top of page

Origin News #2: Ethics Under Fire: The Intersection of CSR and the Pro-Israel Business Boycott



Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu konsep bisnis yang mendeskripsikan bagaimana sebuah perusahaan menyalurkan dampak positif sebagai bentuk kontribusi mereka terhadap well-beingness dari lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitar area perusahaan. Kesuksesan dari suatu perusahaan tentu dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan tersebut dapat berkontribusi terhadap pihak eksternal. Semakin positif dan besar dampak yang diberikan oleh perusahaan terhadap masyarakat, semakin baik juga branding dan pandangan yang masyarakat miliki terhadap perusahaan tersebut. Demikian juga sebaliknya. Oleh sebab itu, kesuksesan perusahaan dalam menjalankan Corporate Social Responsibility juga dapat meningkatkan keuntungan dari perusahaan.

Akhir-akhir ini, genosida yang terjadi di Palestina oleh Israel telah menjadi perhatian masyarakat global. Beberapa bisnis lokal maupun global telah menguak sikap yang mereka ambil sebagai respon mereka atas isu global yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Bisnis-bisnis yang terbukti turut menyalurkan dana untuk persenjataan maupun konsumsi bagi Israel juga perlahan telah muncul ke publik, sehingga dinilai oleh publik sebagai perusahaan yang telah gagal menjalankan Corporate Social Responsibility yang seharusnya mereka terapkan. Masyarakat yang paham dan telah “melek” dengan isu tersebut berbondong-bondong melancarkan aksi boikot terhadap perusahaan-perusahaan tersebut. Boikot yang mereka lakukan terhadap perusahaan pro-Israel tak hanya dilakukan dengan tidak lagi menggunakan barang dan jasa yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut, masyarakat juga saling mengajak, atau bahkan melaksanakan aksi “teror” terhadap perusahaan-perusahaan tersebut guna menegaskan dan memberi efek jera akan sikap perusahaan yang sangat disayangkan pada isu ini. 



Gambar 1. Ilustrasi boikot produk pro-Israel



Gambar 2. Aksi protes di depan toko Zara di Glasgow sebagai respon dari kampanye Zara yang “meledek” genosida di Palestina


Meskipun aksi boikot merupakan pilihan dari masing-masing individu, di beberapa negara, khususnya negara dengan mayoritas penduduk beragama islam, aksi boikot sangat mempengaruhi keberlangsungan dari bisnis-bisnis yang terbukti mendukung Israel. Aksi boikot menyebabkan bisnis-bisnis tersebut mengalami penurunan jumlah konsumen yang drastis sehingga keuntungan yang mereka peroleh pun juga mengalami penurunan, bahkan kerugian. Akibatnya, beberapa dari mereka tidak mampu membayar biaya-biaya untuk keperluan bisnis mereka dan terpaksa menutup bisnis mereka untuk sementara waktu maupun selamanya. Berdasarkan berita yang dilansir oleh CNBC Indonesia di tanggal 2 Mei 2024, sejumlah 100 dari total 600 Restoran KFC di Malaysia telah ditutup “sementara” akibat kekhawatiran akan kerugian yang dialami setelah terjadi pemboikotan pada perusahaan pro-Israel. 


Gambar 3. Headline berita penutupan gerai KFC di Malaysia


Sebaliknya, keuntungan justru didapatkan oleh bisnis-bisnis yang secara terbuka menyatakan sikap mereka yang mendukung dan bahkan menyalurkan bantuan berupa donasi untuk Palestina di tengah isu tersebut. Keuntungan yang didapat juga didorong oleh aksi masyarakat yang turut serta memberikan informasi terkait daftar bisnis yang mendukung Palestina sebagai alternatif bagi para konsumen yang memilih untuk meninggalkan barang dan jasa yang didapat dari bisnis yang mendukung Israel. Fenomena ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya pelaksanaan Corporate Social Responsibility, tak hanya bagi khalayak umum, namun juga bagi perusahaan yang menjalankannya. 

Beberapa perusahaan yang pihak manajemennya, terutama Chief Executive Officer (CEO) dari perusahaan tersebut, pernah “kedapatan” mendukung Israel ada yang langsung mengambil tindakan cekatan untuk mencegah terjadinya kerugian dan dampak negatif yang lebih besar. Sebagai contoh, owner dari brand makeup Rose All Day dan Rare Beauty pernah tertangkap basah mengklik tombol like untuk suatu postingan yang mendukung Israel. Akibatnya, kedua bisnis tersebut sempat dikecam dan dicap buruk oleh publik. Kolom komentar media sosial kedua brand tersebut sempat dipenuhi dengan berbagai caci maki dari publik yang kecewa dengan “pilihan” dan sikap yang diambil oleh owner dari kedua perusahaan tersebut pada kasus genosida di Palestina yang dilakukan oleh Israel. Sebagai langkah represif, kedua brand merilis pernyataan bahwa mereka telah mendonasikan sejumlah uang sebagai bentuk bantuan dan dukungan mereka terhadap Palestina. Meskipun demikian, beberapa masyarakat masih tidak percaya dan bersikap skeptis terhadap pernyataan dari kedua brand tersebut sehingga masih melanjutkan aksi boikot terhadap kedua brand tersebut.



Writer: Askia Syasya Harleena


Sources:

Alifah, Ria, et al. “Analysis of PT Paragon Innovation and Technology Corporate Social Responsibility Assistance Program for Palestine.” Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research, vol. 3, no. 1, 2024, pp. 223–228, journal.formosapublisher.org/index.php/modern/article/view/7660, https://doi.org/10.55927/modern.v3i1.7660. Accessed 28 May 2024.


“How Do Boycotts Affect the Economy? | 4 Answers from Research Papers.” SciSpace - Question, https://typeset.io/questions/how-do-boycotts-affect-the-economy-411j1cz9jj.


Koku, Paul Sergius, et al. “The Financial Impact of Boycotts and Threats of Boycott.” Journal of Business Research, vol. 40, no. 1, Sept. 1997, pp. 15–20, https://doi.org/10.1016/s0148-2963(96)00279-2.


Murphy, Chris. “Why Is Social Responsibility Important to a Business?” Investopedia, 27 Jan. 2024, www.investopedia.com/ask/answers/041015/why-social-responsibility-important-business.asp.

13 views0 comments

Comments


bottom of page